Rabu, 30 Juli 2014

Inilah Kriteria Capres dan Cawapres

courtesy : liputan6.com


Menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) di negeri ini, sudah bermunculan berbagai informasi berikut rekam jejak (track record) para Capres dan Cawapres. Yang paling banyak bermunculan adalah rekam jejak buruk dari Capres maupun Bakal Capres. Tujuan kemunculan rekam jejak buruk tersebut sudah dapat dipastikan untuk menjatuhkan reputasi yang bersangkutan agar tak mendapat simpati dan dukungan rakyat untuk dipilih.

Sudah jadi sifat dan naluri alamiah manusia; sensitif terhadap yang berbau persaingan dan kompetisi, berbagai cara ditempuh untuk bisa menang dan unggul meski dengan cara-cara yang tidak elegan alias curang, termasuk menyebar informasi rekam jejak buruk seseorang.

Namanya juga rekam jejak, pastilah terkait dengan catatan masa lalu seseorang; baik maupun buruk.
Salah seorang Capres yang rekam jejaknya banyak disorot adalah Prabowo Subianto. Mantan Danjen Kopassus ini diduga kuat terlibat dalam penghilangan paksa 13 aktivis dalam kapasitasnya sebagai komandan Kopassus kala itu. Sedangkan Mayjen (Purn) Kivlan Zen belum lama ini menyatakan mengetahui dimana 13 orang hilang itu ditembak dan dikuburkan.


Urusan rekam jejak ini jika terus diungkit tak akan pernah ada ujungnya meski yang bersangkutan sudah berada dalam kubur sekalipun. Mereka yang jadi objek eksploitasi rekam jejak buruk itu pasti tak cuma tinggal diam. Mereka akan melakukan hal yang sama, membalas dengan menggali berbagai informasi rekam jejak pihak yang melakukan serangan baik secara langsung maupun dengan menggunakan tangan orang lain.

Agar permasalahan mengenai persyaratan dan kriteria seorang pemimpin maupun pejabat publik di negeri ini menjadi sederhana, maka sangat diperlukan semacam acuan baku secara tertulis dan sah yang dituangkan menjadi semacam peraturan tersendiri. Misalkan saja Negara membikin Undang Undang Capres dan Cawapres, yang mana memuat poin-poin sebagai berikut;

(1) Seorang Capres atau Cawapres tidak pernah dipecat dari pekerjaan atau profesinya.
(2) Tidak sedang tersangkut proses atau masalah hukum.
(3) Tidak sedang dalam penyelidikan dan penyidikan hukum.
(4) Berusia diantara 40 hingga 60 tahun.
(5) Menikah dan memiliki istri yang sah berdasar UU Perkawinan.
(6) Tidak cacat fisik dan mental.
(7) Tidak berkaca mata baik plus maupun minus.
(8) Fasih berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.
(9) Minimal menguasai bahasa Inggris baik lisan maupun tulisan.
(10) Khatam baca Alquran (bagi yang beragama Islam).
(11) Tak pernah dipenjara terkait tindak pidana (terkecuali terkait politik).
(12) Hapal lagu kebangsaan (national anthem) dan Pancasila.
(13) Tidak memiliki tato di tubuh.
(14) Tidak ada bekas tindik di telinga, di hidung dan bagian tubuh lainnya (bagi pria).
(15) Memiliki SIM C dan A atas namanya sendiri.
(16) Tidak pernah dirawat di Rumah Sakit Jiwa manapun.
(17) Pendidikan minimal Strata Satu (S-1) dari jurusan apa saja.
(18) Punya akun Twitter dan Facebook atas nama asli yang dikelola sendiri.
(19) Hal-hal lain yang masih diperlukan dan tak tercantum disini, akan dimasukkan ke lembaran addendum.


Berhubung seorang Capres maupun Cawapres itu merupakan bakal memimpin negeri, maka mereka mesti orang-orang terbaik. Logikanya jika seorang karyawan sebuah perusahaan saja dikenakan berbagai persyaratan yang cukup banyak, maka seorang Capres ataupun Cawapres mesti lebih banyak lagi persyaratan yang diberlakukan. Jika kelak mereka terpilih sebagai pasangan Presiden dan Wapres, mereka akan memimpin dan mengendalikan ratusan juta rakyat yang bisa diibaratkan sebuah perusahaan yang sangat besar.
Dan jika ada acuan baku yang jelas terhadap persyaratan dan kriteria Capres dan Cawapres, maka tak perlu ada lagi beredar info rekam jejak yang buruk. Jika bisa dibuat mudah kenapa mesti dipersulit.


Sumber : Republika


Enaknya Ulama Kini


“Enak juga jadi Ulama jaman sekarang,” cetus Mat Himpal yang sedang nongkrong minum kopi di kedai Bu Ardi.

“Enaknya apa ?” tanya Tuh Kangkung yang sedang menikmati mie goreng instant.

“Enaknya pada saat menjelang Pemilu, Pilpres, Pilkada, dan Pilkades. Para Calon yang ingin meraih kekuasaan ramai-ramai bertamu dan minta dukungan Ulama,” ungkap Mat Himpal.

“Kalau cuma datang bertamu dan minta dukungan saja apa enaknya,” sahut Tuh Kangkung mendelik.

“Tentu saja mereka tak sekedar datang bertamu dan minta dukungan saja. Paling tidak bawa gula, kopi, teh, dan sebagainya,” ujar Mat Himpal tampak jengkel terhadap tanggapan Tuh Kangkung.

“Kalau cuma bawa itu saja, juga tak ada enaknya,” sahut Tuh Kangkung pula acuh.

“Ah kamu, dasar otak telmi, telat mikir. Tentu saja bukan sekedar itu bawaannya, tapi juga bawa ‘angpao’ sebagai hadiah supaya dapat dukungan,” ujar Mat Himpal dengan sangat kesalnya.

Menurut Mat Himpal, memang sudah jadi semacam budaya di negeri ini; merangkul para tokoh agama dan tokoh lainnya yang dianggap kharismatik serta memiliki massa pengikut yang fanatik, yang taat pada titah tokoh tersebut.

“Ulama yang mau ‘dibayar’ untuk dukung-dukungan seperti itu tak layak memimpin umat,” cetus Tuh Kangkung bersemangat.

“Betul, aku setuju pendapatmu. Ulama itu tak perlu ikut urusan politik dan kekuasaan. Tugas Ulama itu mengurus akhlak dan iman umat, bukan menjadikan umat sebagai tameng untuk kepentingan pribadi,” tambah Mat Himpal.

“Sudah bukan rahasia; Ulama sekarang kan banyak yang punya label. Ada Ulama yang berlabel merah, kuning, hijau, biru, dan lainnya seperti warna pelangi, atau seperti balon yang warna warni,” kata Tuh Kangkung beribarat.

“Hati-hati saja dengan warna hijau; tabung gas LPG warna hijau sering meledak, dan balon yang suka meletus juga berwarna hijau,” sahut Mat Himpal sembari tertawa gelak.


Kenapa Mesti Pakai F, X, Z, Q, Sh, Sy, Kh dan Nk ?


Sudah sejak lama Mat Himpal selalu menemukan tulisan Provinsi, padahal dulu ditulis Propinsi. Begitupun tulisan lainnya yang mengandung unsur abjad P dan F.

Pada sebuah kesempatan nongkrong di kedai Bu Ardi, Mat Himpal menumpahkan kekesalannya terhadap perubahan penulisan beberapa kata dalam bahasa Indonesia. Kekesalan itu ia tumpahkan ke Tuh Kangkung.

“Tak usah terlalu dipikirkan, kalau dibaca oleh kebanyakan orang Indonesia tetap saja yang terdengar bunyi abjad P,” timpal Tuh Kangkung.

“Aku kesal saja. Bahasa Indonesia itu tidak konsisten dalam penulisan dan perkataan,” ujar Mat Himpal sambil menggaruk kepala persis seekor monyet Bekantan.

Mat Himpal pun bicara banyak ke Tuh Kangkung perihal beberapa tulisan yang mengganggu pikirannya. Mat Himpal menyebut kata; aktivitas yang kini ditulis aktifitas, aktiva menjadi aktifa.

“Kenapa sih abjad dalam bahasa Indonesia tak dibuat sederhana saja, misalnya abjad yang bunyi lapalnya mirip seperti P, F, dan V disatukan menjadi P saja,” ujar Mat Himpal uring-uringan.

Ia pun mencontohkan beberapa kata seperti sesuai keinginannya; televisi menjadi telepisi, fitnah = pitnah, foto = poto, Fantasi = pantasi, verbal = perbal, aktif = aktip, aktivitas/aktifitas = aktipitas, sifat = sipat, dan sebagainya.

“Itu maunya kamu, maunya para pakar bahasa jelas berbeda,” sahut Tuh Kangkung.

“Sudah jelas itu, mereka kan pakar, tapi paling tidak kita bisa menyederhanakan abjad yang dipakai dalam bahasa Indonesia,” ujar Mat Himpal membela diri.

Mat Himpal pun kembali menyebut beberapa kata serapan dari bahasa mancanegara misal; shalat sebaiknya ditulis saja solat, Allah = Alloh, izin = ijin, zaman = jaman, zakat = jakat, syarat = sarat, bank = beng, tank = teng, tanker = tengker, charter = carter, tekhnik = tehnik atau teknik, akhir = ahir, qari = kori, qariah = koriah, quran = kuran, dan seterusnya.

Menurut Mat Himpal dengan demikian maka penulisan kata dalam bahasa Indonesia tak ada lagi abjad konsonan; F, V, X, Z, Q, Sh, Sy, Kh, dan Nk.

“Kalau misal ingin menggunakan istilah asing, tulis saja sesuai tulisan aslinya dengan arti/maknanya dalam kurung,” tambah Mat Himpal.

Ini usulan Mat Himpal untuk bahasa Indonesia, yang meski mengikut perkembangan jaman tapi tetap punya ciri tersendiri.


Stigma PKI, Hebatnya Indoktrinisasi Orde Baru

courtesy : wikipedia


Karena ingin berbeda dari kebanyakan temannya, Mat Himpal nyaris saja masuk bui tanpa peradilan yang jelas.

Kisah ini merupakan pengalaman pribadi Mat Himpal terjadi puluhan tahun lalu di era rejim Orde Baru berkuasa. Diceritakan kembali oleh Mat Himpal kepada Tuh Kangkung pada kesempatan nongkrong sore di kedai milik Bu Ardi.

“Hampir saja aku masuk bui andai jawabanku tak memiliki alasan tepat waktu itu,” Mat Himpal memulai kisahnya seraya menyalakan sebatang rokok.

“Kok bisa begitu, memangnya kesalahanmu apa ?” tanya Tuh Kangkung sembari pula tangannya meraih kotak rokok milik Mat Himpal yang berada di atas meja, biasa, rokok cap min alias minta, hehe……

“Waktu itu aku masih duduk di SMA di tahun 1980-an. Aku bersama 2 temanku menyewa sebuah rumah kontrakan. Orangtua kami berada di kampung lain,” Mat Himpal seperti sedang menerawang kembali ke masa silam menembus lorong waktu.

Seperti kebanyakan remaja seusia Mat Himpal pada masa itu, mereka suka menghiasi atau memajang poster foto artis maupun olahragawan di dinding kamar rumah sendiri maupun rumah kontrakan mereka, yang jelas bukan di dinding mushala, surau atau mesjid.
Namun tak semua remaja begitu. Mat Himpal termasuk diantara remaja yang suka berbeda, tak tertarik memasang poster foto artis, olahragawan, entahlah foto artis yang mengenakan busana belum rampung atau kurang bahan, hiks, hiks…..


Untuk itu Mat Himpal berencana menghiasi rumah kontrakan mereka dengan bendera beberapa negara. Ide itu ia sampaikan ke dua temannya, kebetulan keduanya pun setuju ide tersebut. Maka mulailah Mat Himpal mencari kertas hiasan berwarna yang biasa digunakan untuk dekorasi pernikahan atau kawinan. Mereka akan membuat bendera dari kertas hias. Bendera tersebut tidak saja akan menghiasi kamar tidur, tapi juga ruang tamu yang jika jendelanya dibuka akan tampak dari jalan umum yang cukup ramai.

Bendera yang pertama mereka bikin adalah bendera United Nations (PBB, Perserikatan Bangsa Bangsa). Bendera berikutnya adalah milik 5 negara yang menjadi anggota tetap Dewan Keamanan PBB; USA, USSR (Rusia), RRT, Inggris dan Prancis, yang biasa disebut The Big Five. Semua bendera tersebut mereka pajang di dinding ruang tamu dengan bendera PBB berada di tengah-tengah.

Nah, urusan pajang bendera inilah yang membuat masalah bagi Mat Himpal bersama temannya. Apa hal ?
Rupanya salah satu bendera yang dipajang tersebut menjadi perhatian diantara orang-orang yang berlalu lalang di depan rumah kontrakan mereka. Bendera yang bikin masalah itu adalah bendera USSR yang berlambang palu dan arit. Tahu sendiri pada era itu, palu dan arit identik dengan Parpol yang dilarang oleh Pemerintah; PKI (Partai Komunis Indonesia).


Agaknya ada orang yang melapor perihal bendera berlambang palu dan arit itu ke Kepala Desa. Tak ayal Kepala Desa dengan ditemani seorang anggota Polsek mendatangi Mat Himpal dan temannya di rumah kontrakan mereka.

“Saya mau tanya apa maksud kalian memajang lambang PKI itu ?” tanya Kepala Desa dengan suara berat dan serak, sementara anggota Polsek mengamati bendera yang dipajang di dinding ruang tamu.

“Kami tak ada memasang lambang yang dimaksud,” jawab Mat Himpal agak gugup.

“Itu buktinya terpajang di dinding,” tunjuk Kepala Desa.

Bagaimana pun Mat Himpal dibantu temannya menjelaskan bukan lambang PKI tapi bendera salah satu negara, Kepala Desa bergeming tak mau tahu.

“Ini buku atlas, kami menirunya dari sini,” Mat Himpal menunjukkan buku atlas peta dunia dimana juga terdapat bendera dari negara di seluruh dunia.

Kepala Desa mengambil buku atlas dari tangan Mat Himpal, membolak balik halaman demi halaman, serta nengamati seluruh bendera. Anggota Polsek yang bersamanya juga melakukan hal yang sama. Akhirnya, “sudahlah. Lebih baik kalian lepas saja bendera tersebut daripada menuai masalah nantinya. Kami berdua cukup mengerti, namun belum tentu aparat lainnya mau mengerti, apalagi yang dari Koramil.”
Kepala Desa menganjurkan Mat Himpal agar melepas bendera yang berlambang palu dan arit itu.
“Baiklah kalau begitu kami mengikuti saran bapak,” ujar Mat Himpal mewakili kedua temannya.


“Kalau saja pak Kepala Desa bukan membawa anggota Polsek, tapi anggota Koramil, kamu sama kedua temanmu itu bisa-bisa dimasukkan tahanan tanpa proses,” timpal Tuh Kangkung menanggapi kisah Mat Himpal.

“Itulah untungnya pak Kepala Desa mau mengerti dan bersikap arif. Masih untung kalau cuma ditahan, tidak di-dor lalu dikarungi,” ujar Mat Himpal bergidik membayangkan.

“Indoktrinisasi rejim Orde Baru terhadap warga terkait PKI memang sangat hebat. Mereka berhasil melekatkan stigma PKI itu berbahaya dan kejam di benak rakyat negeri ini,” kata Tuh Kangkung.

“Dan hebatnya stigma tersebut masih terus melekat hingga kini pada sebagian besar rakyat, meski di era reformasi ini semua warga negara diperlakukan hak dan kewajibannya sama tak memandang apakah orangtuanya dulu terlibat ataupun pendukung serta simpatisan PKI yang datanya terdaftar di arsip instansi pemerintah,” ujar Mat Himpal yang kemudian menghabiskan kopi hitamnya.

Lupakan Ego, Belajar Dari Torres


Jose Mourinho berteriak-teriak sambil menepuk dadanya seusai Chelsea mengalahkan Liverpool di ajang Premier League atau Liga Inggris. Entah apa yang diteriakkan si Special One itu, entah ia berteriak dalam bahasa ibunya, Porto, ataukah dalam bahasanya Ratu Elizabeth, aku tak tahu, karena aku cuma bisa melihatnya melalui layar kaca.

Sebagai penggemar Chelsea, aku sudah bersiap-siap di depan telepisi beberapa menit sebelum pertandingan dimulai. Aku tak ingin kehilangan momen sedikit pun menyaksikan para pemain Chelsea beraksi; Demba Ba, Mohamed Salah, Willian, Fernando Torres, Andre Schurrle, dan lainnya.

Skuad Chelsea datang ke Stadion Anfield kandang Liverpool sebagai tim tamu beberapa hari lalu. 2 gol cukup membuat para pendukung tim tuan rumah tertunduk lesu. Dimulai dari gol Demba Ba di menit-menit akhir babak pertama. Demba Ba mengambil bola dari penguasaan Steven Gerrard yang terjatuh setelah menerima operan dari rekannya. Si Hitam Ba berlari kencang menggiring bola ke arah gawang, meski Gerrard berusaha mengejar, kalah cepat, gol……..Demba Ba sujud syukur sebagai bentuk selebrasinya usai membobol gawang lawan.

Tim tuan rumah tambah tertinggal di babak kedua. Masuknya Fernando Torres sebagai pemain pengganti, membuahkan hasil. Gol kedua tercipta atas assist yang diberikannya kepada Willian. Torres berhasil membawa bola dari area pertahanan Chelsea melewati para pemain Liverpool. Willian berlari mengiringi Torres di sisi kanan. Mereka berdua tinggal berhadapan dengan kiper Liverpool.
Semula aku mengira Torres akan menembakkan bola ke gawang lawan, tapi perkiraanku salah, ia mengopernya ke Willian yang dengan santainya memasukkan bola.
Ini yang membuatku salut terhadap Torres. Dia melupakan egonya sebagai seorang pemain yang cukup terkenal. Torres benar-benar profesional, berkerja secara tim untuk kemenangan klubnya. Padahal bisa saja ia sendiri yang melakukan tembakan ke gawang Liverpool dengan mengabaikan Willian. Selamat buat Chelsea dan Special One, Mou.



Beringin Tak Mau Tunduk ke Banteng

Sore itu Amat Himpal sedang menikmati segelas kopi hitam kesukaannya di kedai minum milik Bu Ardi. Angin bertiup sepoi-sepoi, segar, apalagi sebelum ke kedai Amat Himpal sudah mandi. Kedai Bu Ardi jadi tempat mangkal favorit Amat Himpal bersama teman-temannya. Selain tempatnya cukup lega, bersih, juga Bu Ardi orangnya baik; mau terima bon dulu untuk keperluan minum, makan serta rokok untuk Amat Himpal dan teman lainnya.

Seperti sudah berjanji, tak lama Amat Himpal nongkrong di kedai, Utuh Kangkung pun datang menyusul. Mereka berdua ini sudah layaknya seperti alat berat Grader dengan Steamwall (compactor) yang tak terpisahkan saat bikin jalan.
“Sudah mandi kelihatannya nih, rapi begitu,” tegur Utuh Kangkung ke Amat Himpal yang sedang asyik mengisap rokoknya.
“Ya iyalah. Paling-paling kamu saja yang belum mandi,” ledek Amat Himpal sembari terkekeh.
“Sembarangan kamu. Jaga mulutmu yang penuh asap itu,” balas Utuh Kangkung lalu duduk bersampingan dengan Amat Himpal.
“Ada kabar apa nih selain kabar tentang pencarian kangkung yang tak kunjung padam ?” tanya Amat Himpal sambil senyum-senyum.
“Kali ini bukan kabar tentang kangkung makanan kesukaanmu itu,” sahut Utuh balas terkekeh.
“Sialan ! Kau kira aku sejenis marmut,” sahut Amat kesal.
Pembicaraan keduanya terhenti karena Utuh Kangkung memesan segelas kopi hitam pula ke Bu Ardi. Dan sudah kebiasaan Utuh Kangkung yang suka sekali dengan rokok cap min alias minta, rokok Amat lah yang jadi targetnya.
“Kali ini aku bawa kabar serius, tentang Pemilu 2014 di kampung kita ini,” Utuh menyambung bicara dengan wajah benar-benar serius.
“Hebatnya apa kabarmu tentang Pemilu yang tiap saat sudah banyak diberitakan di berbagai media massa ?” tanya Amat meremehkan.
“Jangan salah bro, kabarku ini sangat berbeda dari berita di media itu,” sahut Utuh meyakinkan.
“Oke kalau begitu, lanjutkan. Aku kali ini jadi pendengarmu yang terbaik di dunia,” ujar Amat yang kemudian kembali menyalakan sebatang rokok dan menghirup kopi hitamnya.
Nah, begini kabar yang dibawa Utuh Kangkung, silakan para pemirsa sekalian menyimak.
Seorang Caleg untuk DPRD Kabupaten, sebut saja namanya H. Rudi, telah mengeluarkan dana tak kurang Rp 2 milyar untuk bisa terpilih. Dengan dana sebesar itu tadinya ia berharap dapat meraup suara pemilih setidaknya 4 ribuan. Disamping untuk memuluskannya duduk di kursi DPRD, juga untuk membantu raihan suara Parpol-nya, Banteng gemuk moncong putih. Tapi apa lacur, H. Rudi cuma mampu meraup suara sekitar 2.300. Untunglah dengan suara yang diperolehnya tersebut ia dipastikan duduk di kursi DPRD.
“Tapi raihan suara segitu tak sesuai dengan semua biaya yang kukeluarkan,” sungut H. Rudi.
“Wah, banyak sekali yang yang ia keluarkan,” ujar Amat.
“Yah begitulah, risiko jika bermain politik uang,” sahut Utuh.
“Terus bagaimana kelanjutannya ?” tanya Amat penasaran.
Utuh Kangkung meneruskan kabarnya.
H. Rudi yang merupakan petahana anggota DPRD itu merasa sudah ditipu oleh para orang yang menjadi tim suksesnya. Untuk meraup suara pemilih, H. Rudi membekali tiap anggota tim suksesnya rata-rata Rp 50 juta untuk melakukan serangan malam, serangan fajar, dan serangan pagi.
“Dasar pengkhianat !” H. Rudi mengumpat geram setelah mengetahui perolehan suaranya.
“Masih untung dia dapat kembali duduk. Dan tim suksesnya pun benar-benar sukses, ya sukses menipu H. Rudi,” Amat Himpal tergelak.
“Itu risiko. Masih mau mendengar kabar lainnya tidak ?” tanya Utuh Himpal sembari meneguk kopinya dan kembali minta rokok Amat Himpal.
“Mau, mau, mau,” sahut Amat dengan mimik lucu menirukan tokoh Upin.
Kali ini Utuh Kangkung melanjutkan tentang seorang Caleg petahana pula. Caleg itu, sebut saja namanya Rahman. Untuk bisa kembali duduk di DPRD Kabupaten, ia melego sebuah rumahnya yang masih belum rampung. Rumah tersebut ia jual laku sebesar Rp 400 juta untuk modal politik. Itu pun masih kurang. Rahman masih merogoh dari simpanannya tak kurang Rp 100 juta. Ia benar-benar berjudi (gambling), untunglah perolehan suaranya cukup untuk mengantarnya kembali ke tempat duduknya semula.
“Hebat, nekat, dan untung. Padahal beberapa petahana yang lain bukannya lulus tapi lolos,” ujar Amat Himpal tertawa kecut.
“Nah, kabar yang satu ini cukup unik,” ujar Utuh Kangkung sengaja membuat Amat Himpal penasaran.
“Tak usah bikin penasaran, cepat lanjutkan bila ingin kopimu aku yang bayar,” kata Amat Himpal berlagak mengancam.
Caleg ini sudah dua Pemilu gagal tembus. Kali ini ia yang bernaung di bawah Parpol berlambang pohon beringin ini, berhasil tembus. Namun anehnya, setelah mengetahui hasil perolehan suara Parpol-nya keseluruhan tingkat kabupaten, yang mana Parpol-nya cuma berhasil meraih 3 kursi, Caleg yang sebut saja namanya Marwan ini, jadi patah arang. Dia bermaksud menyerahkan kursi perolehannya kepada rekannya yang perolehan suaranya berada di bawahnya.
“Kok dia bisa patah arang seperti itu. Mungkin karena dia tak bisa bangun pagi. Setahuku si Marwan itu kan semacam Batman, manusia kalong yang berkerja malam hari tidur menjelang pagi,” ujar Amat Himpal heran.
“Memangnya kamu kenal sama dia ?” tanya Utuh Kangkung juga tampak heran.
“Tentu saja aku kenal dia. Sebagian besar orang di kampung ini kenal dia kok. Dia itu terkenal berangasan dan kasar terhadap orang,” ungkap Amat Himpal.
“Tapi bukan karena itu ia patah arang. Menurut sumber yang bisa dipercaya, si Marwan itu tidak mau dipimpin oleh orang-orang dari Parpol Banteng yang meraih 10 kursi dari 35 yang disediakan,” Utuh Kangkung bergaya seperti seorang presenter pembaca berita.
Amat Himpal : ?!#*%^¥£€

Kurang Tenar, Tak Kampanye Tapi Lolos ke Senayan

courtesy : antara
Nama tenar saja tak cukup mengantar seseorang untuk meraih sukses terpilih sebagai Wakil Rakyat (Legislator) dan Anggota DPD (Senator) pada Pileg 2014 lalu. Tak sedikit nama tenar atau publik figur baik yang berada di tingkat pusat maupun di daerah yang gagal melenggang ke gedung legislator maupun senator. Penyebabnya tentu bermacam-macam, yang paling logis adalah rakyat sudah bosan dan tak percaya terhadap mereka.
Namun diantara hiruk pikuk Pileg 2014 yang masih menyisakan beberapa hal, antara lain isu money politic dan penggelembungan (mark up) suara oleh Parpol tertentu, kita patut berpaling kepada seorang Calon Senator yang mewakili wilayah Propinsi Jawa Barat.
Bagi para pengamat dunia hiburan di tanah air terutama komedi, kemungkinan sedikit yang mengetahui nama Oni Suwarman atau Oni SOS. Pria yang selalu berpenampilan dan berbicara layaknya tokoh legenda Sunda, Kabayan ini mulai dikenal di jagat hiburan Indonesia setelah keluar sebagai pemenang, juara pertama di Ajang Audisi Pelawak Indonesia (API) pada 2005 di TPI yang kini berlabel MNC TV. Itu pun Oni tidak sendiri, tapi bersama 2 rekannya; Sule dan Oding.
Pada perjalanan selanjutnya ketiga anggota grup SOS yang merupakan singkatan dari Suwarman (Oni), Oding, dan Sule (Entis Sutisna) ini, hanya Sule yang begitu fenomenal dan sangat eksis di dunia hiburan. Adapun Oni dan Oding nyaris tak terdengar kiprahnya kebih-lebih Oding.
Oni Suwarman yang beruntung masih sempat muncul di beberapa acara tayangan telepisi, namanya kini mencuat di berbagai media massa. Bukan karena ia mendapat kesempatan dan rejeki seperti Sule, tapi karena ia maju sebagai Calon Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Propinsi Jawa Barat.
Pada Pileg 2014 ini, Oni Suwarman memperoleh 2.167.485 suara, perolehan suara terbanyak diantara semua Calon di wilayah Propinsi Jawa Barat. Oni dipastikan lolos melenggang ke Senayan bersama Eni Sumarni (2.041.830 suara), Aceng Fikri, Mantan Bupati Garut (1.139.556 suara), dan Ayi Hambali (1.032.465 suara). (sumber Okezone)
Di kalangan para selebriti maupun pegiat hiburan di tanah air ini, nama Oni sudah jelas berada jauh di bawah rekannya sendiri, Sule. Juga tak bisa bersanding dengan nama-nama seperti Andre (mantan personil grup Band Stinky), Tukul Arwana, Olga, Raffi Ahmad, Parto, dan lainnya. Tapi kita tentu ingat Andre yang kalah pada Pilkada di Tangerang Selatan pada 2010. Andre berpasangan dengan Arsid, maju sebagai Calon Wakil Walikota, dikalahkan oleh pasangan Airin Rachmi Diany dan Benyamin Davnie (sumber tribun news). Padahal Andre tidak saja dikenal kini sebagai seorang komedian yang eksis tampil tiap hari di layar kaca, namun sebelumnya sudah tenar sebagai seorang penyanyi, vokalis di grup Band Stinky yang beberapa lagunya sempat di hit di blantika musik Indonesia. Jadi, nama tenar saja tidak cukup.
Yang patut jadi catatan dari keberhasilan Oni ini adalah, ia tak seperti Calon lainnya yang gencar berkampanye, bahkan menyebar duit ke para calon pemilih (sumber tribun news). Nah, jika berminat melenggang ke Senayan pada 2019 nanti, patut belajar ke Oni.